Viral Tidak Sama Dengan Closing
Viral Tidak Sama Dengan Closing
Ada satu jebakan yang sering terjadi ketika bisnis mulai serius bermain di media sosial: menganggap viral sebagai tanda bahwa strategi marketing sudah berhasil.
Sebuah video mendapatkan 500 ribu views. Pemilik bisnis senang. Besoknya mencapai satu juta views. Lebih senang lagi.
Tapi ketika laporan penjualan dibuka, ternyata tidak banyak berubah.
“Yang nonton banyak, kok yang beli sedikit?”
Pertanyaan ini sebenarnya cukup umum. Masalahnya, banyak bisnis masih mencampuradukkan attention dengan conversion. Padahal keduanya berada pada tahap yang berbeda dalam perjalanan seorang calon pelanggan.
Viral berarti banyak orang memperhatikan Anda.
Closing berarti sebagian dari mereka memutuskan untuk membeli.
Jarak antara keduanya bisa sangat jauh.
Viral Hanya Menghasilkan Perhatian, Bukan Jaminan Penjualan
Hal pertama yang perlu dipahami adalah Viral Hanya Menghasilkan Perhatian, Bukan Jaminan Penjualan.
Konten viral memang memiliki nilai. Brand bisa mendapatkan exposure besar tanpa harus mengeluarkan biaya iklan yang sama besar. Orang yang sebelumnya tidak mengenal bisnis Anda tiba-tiba melihat produk, nama, atau wajah Anda di layar mereka.
Masalahnya, perhatian bukan transaksi.
Bayangkan sebuah restoran membuat video lucu tentang kehidupan karyawannya. Video tersebut viral dan ditonton jutaan orang.
Apakah semua orang yang menonton akan datang makan?
Tentu tidak.
Sebagian mungkin hanya tertawa. Sebagian membagikan videonya. Sebagian bahkan tidak tahu restoran tersebut menjual apa.
Di sinilah bisnis perlu membedakan antara konten untuk mendapatkan perhatian dan konten yang dirancang untuk menghasilkan penjualan.
Konten viral adalah pintu masuk. Bukan garis finish.
Views Bukan Ukuran Utama Keberhasilan Bisnis
Media sosial membuat angka menjadi sangat mudah dilihat.
Views ada di layar. Likes ada. Followers bertambah. Komentar juga ramai.
Akibatnya, pemilik bisnis mudah terjebak mengejar angka tersebut.
Padahal Views Bukan Ukuran Utama Keberhasilan Bisnis.
Views memang penting untuk mengukur jangkauan. Tetapi untuk bisnis, ada angka lain yang jauh lebih relevan:
- berapa orang yang mengunjungi website,
- berapa orang yang menghubungi WhatsApp,
- berapa orang yang meminta penawaran,
- berapa transaksi yang terjadi,
- berapa nilai penjualan,
- dan berapa pelanggan yang melakukan pembelian ulang.
Satu video dengan 20 ribu views yang menghasilkan 20 pelanggan bisa jauh lebih berharga daripada video dengan dua juta views tetapi tidak menghasilkan satu transaksi pun.
Jangan sampai bisnis menjadi sibuk merayakan angka yang sebenarnya tidak berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan.
Baca Juga : Kesalahan UMKM saat mulai jualan Online
Konten Viral Harus Terhubung dengan Produk
Bukan berarti bisnis harus menghindari konten yang berpotensi viral.
Justru sebaliknya.
Viral adalah sesuatu yang bagus jika bisa diarahkan menuju tujuan bisnis.
Karena itu, Konten Viral Harus Terhubung dengan Produk.
Hubungannya tidak harus selalu berupa promosi terang-terangan.
Misalnya Anda menjual kopi.
Daripada membuat konten viral yang sama sekali tidak berhubungan dengan kopi, Anda bisa membuat konten tentang kebiasaan orang minum kopi, kesalahan memilih biji kopi, cerita di balik proses roasting, atau perbedaan karakter berbagai jenis kopi.
Kontennya tetap menarik untuk ditonton, tetapi audiens mulai mengenal bisnis dan produk Anda.
Inilah yang membuat viralitas menjadi lebih bernilai.
Konten tidak berhenti pada “orang melihat”, tetapi berlanjut menjadi “orang mengenal”.
Dan ketika seseorang sudah mengenal brand, peluang untuk masuk ke tahap berikutnya menjadi lebih besar.
Harus Ada Call to Action yang Jelas
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah bisnis berhasil mendapatkan perhatian tetapi lupa mengarahkan audiens.
Padahal Harus Ada Call to Action yang Jelas.
Setelah seseorang tertarik, mereka harus tahu apa yang perlu dilakukan berikutnya.
Misalnya:
“Mau lihat produknya? Klik link di bio.”
Atau:
“Butuh konsultasi? Chat WhatsApp kami.”
Atau:
“Cek paket lengkapnya di website.”
CTA tidak harus agresif.
Yang penting jelas.
Bayangkan seseorang sudah tertarik dengan produk Anda, tetapi tidak tahu harus membeli di mana. Akhirnya dia keluar dari video, membuka aplikasi lain, dan melupakan bisnis Anda.
Perhatian yang sudah susah payah didapatkan akhirnya hilang begitu saja.
Landing Page dan Proses Pembelian Harus Mudah
Ada satu masalah yang sering tidak disadari ketika sebuah konten tiba-tiba viral.
Website atau sistem penjualan ternyata tidak siap.
Video mendapatkan traffic besar, tetapi ketika calon pelanggan mengklik link, website lambat. Informasi produk tidak jelas. Harga sulit ditemukan. Tombol WhatsApp tidak tersedia. Proses checkout terlalu rumit.
Di sinilah Landing Page dan Proses Pembelian Harus Mudah.
Jangan membuat calon pelanggan bekerja terlalu keras untuk membeli.
Semakin panjang prosesnya, semakin banyak peluang mereka berubah pikiran.
Idealnya, seseorang yang tertarik dari konten dapat bergerak dengan alur sederhana:
Konten → Landing Page → Informasi → CTA → Konsultasi/Checkout → Pembayaran.
Setiap tahap harus jelas.
Kalau Anda menghabiskan waktu dan uang untuk mendapatkan traffic, jangan biarkan traffic tersebut terbuang karena pengalaman pengguna yang buruk.
Bangun Kepercayaan Sebelum Meminta Customer Membeli
Tidak semua orang yang melihat konten viral akan langsung membeli.
Terutama jika produknya memiliki harga cukup tinggi.
Orang mungkin tertarik, tetapi masih memiliki pertanyaan:
“Bisnis ini terpercaya?”
“Produknya benar-benar bagus?”
“Ada orang lain yang sudah membeli?”
“Kalau ada masalah, bagaimana layanan setelah pembelian?”
Karena itu, Bangun Kepercayaan Sebelum Meminta Customer Membeli.
Website dapat membantu memberikan informasi yang lebih lengkap. Testimoni dapat menjadi social proof. Portofolio menunjukkan pengalaman. Dokumentasi bisnis memberikan gambaran bahwa perusahaan benar-benar beroperasi.
Untuk produk tertentu, edukasi juga sangat penting.
Jangan selalu meminta pelanggan membeli pada interaksi pertama.
Kadang yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah membuat mereka percaya.
Setelah kepercayaan terbentuk, proses closing menjadi jauh lebih mudah.
Viral Harus Masuk ke Dalam Funnel Marketing
Salah satu cara melihat masalah ini adalah dengan memahami funnel.
Sederhananya:
Awareness → Interest → Consideration → Conversion → Retention.
Konten viral biasanya sangat kuat pada tahap awareness.
Namun bisnis tidak boleh berhenti di sana.
Audiens yang sudah mengenal brand perlu diarahkan menuju tahap berikutnya.
Mereka bisa diarahkan ke website, newsletter, WhatsApp, katalog, marketplace, atau kanal lain yang memungkinkan bisnis membangun hubungan lebih lanjut.
Dengan begitu, satu konten viral tidak hanya menghasilkan views.
Ia menghasilkan aset berupa audiens yang bisa terus dikembangkan.
Jangan Mengejar Viral dengan Mengorbankan Brand
Ada satu jebakan lagi.
Karena ingin viral, bisnis terkadang membuat konten yang sebenarnya tidak sesuai dengan karakter brand.
Konten kontroversial mungkin mendapatkan views tinggi. Konten sensasional mungkin menghasilkan banyak komentar.
Tetapi pertanyaannya:
Apakah audiens yang datang sesuai dengan target customer?
Jika tidak, viralitas justru bisa menjadi gangguan.
Brand yang ingin bertahan lama perlu memiliki batas.
Tidak semua tren harus diikuti.
Tidak semua konten yang berpotensi viral harus dibuat.
Lebih baik mendapatkan audiens yang relevan daripada jutaan views dari orang yang tidak pernah memiliki kemungkinan menjadi pelanggan.
Tujuan Akhir Bukan Viral, Tapi Bisnis yang Tumbuh
Pada akhirnya, Tujuan Akhir Bukan Viral, Tapi Bisnis yang Tumbuh.
Viral bisa membantu bisnis mendapatkan perhatian dalam waktu singkat. Tetapi pertumbuhan bisnis membutuhkan lebih dari sekadar perhatian.
Dibutuhkan produk yang baik, positioning yang jelas, pelayanan yang konsisten, sistem penjualan yang mudah, dan kemampuan mempertahankan pelanggan.
Karena itu, jangan kecewa jika sebuah konten hanya mendapatkan 10 ribu views tetapi menghasilkan penjualan.
Dan jangan terlalu cepat bangga ketika sebuah video mendapatkan satu juta views tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
Ukuran keberhasilan harus kembali kepada tujuan bisnis.
Kalau tujuannya meningkatkan penjualan, ukur penjualan.
Kalau tujuannya mendapatkan leads, ukur leads.
Kalau tujuannya membangun brand, ukur brand awareness dan pencarian brand.
Views adalah angka. Closing adalah hasil.
Dan bisnis yang sehat bukan bisnis yang setiap hari viral.
Bisnis yang sehat adalah bisnis yang mampu mengubah perhatian menjadi kepercayaan, kepercayaan menjadi transaksi, dan transaksi menjadi pelanggan yang kembali lagi.
@dokterwebJago coding, sepi klien